Tampilkan postingan dengan label pekalongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekalongan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Petani Melati di Depok, Kandeman




Apakah Anda penggemar teh melati yang disajikan dengan 'tubruk', terutama teh-teh produk lokal seperti teh Teh Dandang bikinan Batang atau teh Cap Bandulan dan Tjap Tjangkir bikinan Pekalongan? Disruput sore-sore dengan sepotong pisang goreng sambil duduk-duduk di rumah adalah kenikmatan tiada tara.

Sebagian besar penikmatnya mungkin hanya mengingat tehnya dan bisa menduga dimana kira-kira ditanam namun lupa bahwa melatinya juga merupakan hasil pertanian yang ditanam secara khusus.

Di Kabupaten Batang terdapat sekelompok warga yang menggantungkan ekonominya pada pertanian melati. Mereka berada di kawasan dekat pantai di Depok, Kec. Kandeman.

Salah seorang petani melati yang saya kenal adalah H.Masruri. Beliau telah lama menggeluti usaha ini sejak akhir tahun 1980-an. Seingat saya dahulu beliau rajin menyalurkan hasil pertaniannya dengan sepeda motor ke sebuah pabrik teh di Pekalongan. Beberapa bulan lalu saya kembali bertemu beliau dan ternyata masih menggeluti usaha ini bahkan kelihatan jauh lebih sejahtera dengan mobil yang dimilikinya.

Konon bunga melati ini hanya dihargai oleh pengusaha teh apabila kuncup bunganya di panen sebelum mekar. Apabila bunganya sudah mekar ketika disetorkan maka akan ditolak karena konon potensi kewangiannya sudah keburu keluar.

Harian Suara Merdeka pernah memuat berita fitur tulisan Triasno Suhito & Trias Purwadi mengenai usaha ini. Dalam berita tersebut disebutkan bahwa hasil pertanian melati ini bahkan telah diekspor ke beberapa negara. Selengkapnya ada di tautan berikut:
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/04/10/142893/Bisnis-Melati-yang-Terus-Mewangi

Posted from Bogor
Thu, Nov 10, 2011

Ilustrasi: gambar Teh Bandulan diunduh dari Google Image search
Sent from my BlackBerry® smartphone


Senin, 26 September 2011

Boso mBatang: Fakta-fakta Menarik

Beberapa kosa kata Jawa non-standar yang dipakai di daerah Batang dan sekitarnya ternyata memiliki kemiripan dengan daerah-daerah lain di Jawa.

Contoh:

1. Kata "antèr" yang berarti "alon" (lambat) ternyata dikenal di Jogja tapi tidak dipakai di Solo.

2. Kata "ngligo" yang berarti "telanjang dada" dikenal di Solo tetapi tidak dipakai di Jogja. Demikian pula kata "pego" yang berarti "asap" ternyata dipahami di Solo tetapi tidak dipakai di Jogja. Orang Jogja menggunakan kata "kebul".

3. Kata "kadi" yang berarti "dari" ternyata dipakai di daerah Bantul dan Gunung Kidul, sedangkan orang Jogja dan Solo menggunakan kata "saka/seka".

4. Kata "atis" yang berarti "dingin" dikenal di daerah pesisiran sampai termasuk Kudus, Jepara dan Pati. Orang Jogja-Solo menggunakan kata "adem" yang kalau di Batang berarti sejuk tetapi tidak dingin.

5. Kata "nyelang" yang berarti "meminjam" dikenal juga di daerah Jawa Timur (Malang dan sekitarnya). Sementara di Jogja dan Solo orang menggunakan kata "nyilih/njilih".

6. Kata "pitik" di Batang berarti ayam kecil, sedangkan di Jogja-Solo berarti ayam dewasa.

7. Kata "dhong..." yang berarti "pada saat..." dikenal juga di daerah Semarang dan sekitarnya.

8. Kata "po'o" dipakai di sekitar Surabaya, tetapi memiliki sedikit perbedaan arti. Contoh penggunaan di Surabaya "Ning kono wae po'o?" (Di situ aja kenapa sih).

9. Kata "klalen" yang berarti "lupa" dikenal juga di daerah penutur bahasa Jawa dialek Tegal.



Minggu, 25 September 2011

Boso mBatang


Seri "Boso Mbatang" bertujuan untuk mengkompilasi kekayaan kosakata masyarakat Batang dan sekitarnya. Identitas kultural pesisiran yang menjadi karakteristik masyarakat Batang memang cukup berbeda dari arus utama budaya Jawa pedalaman.

Karena tingginya interaksi dengan wilayah lain di Jawa Tengah saat ini banyak kata-kata tersebut mulai hilang dan generasi muda memiliki kecenderungan untuk berbicara dengan kosakata standar Jogja-Solo terutama yang pernah kuliah di kedua kota itu.

Yang patut disayangkan adalah munculnya anggapan atau perasaan bahwa kosakata dan dialek daerah ini seolah-olah inferior bila dibandingkan dengan bahasa Jawa baku. Anggapan ini tentu saja keliru. Keunikan linguistik ini justru merupakan sebuah kekayaan budaya yang menunjukkan bahwa selama ini masyarakat Batang dan sekitarnya cukup inovatif dalam berbahasa dan tidak terikat oleh bahasa Jawa arus utama.

Kosakata-kosakata lainnya saat ini terus diekplorasi dan akan segera ditampilkan bila kebetulan teringat. Format pemuatan berupa kata yang disertai dengan arti dan contoh pemakaian dalam kalimat.

Bahasa Jawa di Batang sebenarnya merupakan bagian dari ragam bahasa Jawa dialek Pekalongan, keterangannya bisa dilihat di Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa_Pekalongan
Sebagai penutur asli saya cukup khawatir bahwa dialek ini akan lenyap ditelan oleh bahasa Jawa standar Solo-Jogja atau bahasa Indonesia.
posted from Jakarta

Sabtu, 17 September 2011

Resep Memasak Megono

Berikut adalah resep 'megono', makanan yang menjadi teman nasi hangat, khas daerah Batang, Pekalongan dan sekitarnya.

Bahan/bumbu:
1. garam 2. bawang putih 3. bawang merah 4. ketumbar 5. kemiri 6. lengkuas 7. salam 8. jerukwangi 9. sere 10. kelapa parutan 11. nangka muda (gori/cecek) yang dicincang kecil-kecil.

Cara memasak:
Semua bumbu dihaluskan kecuali daun salam, lengkuas dan sere lalu diurap bersama kelapa parutan. Kemudian nangka muda dicincang, dikukus dan kelapa parutan yang sudah diurap dengan bumbu dikukus di atasnya. Setelah matang diurap semua baru disajikan.

(Matur nuwun kagem Mbak Fatiroh Kauman, Batang untuk resepnya)

Ada juga versi resep yang menggunakan bunga 'kecombrang' (sejenis tanaman umbi mirip lengkuas). Bisa lihat DI SINI KLIK (tambahan 26 Nov 2012)




Posted from BlackBerry®

Jumat, 16 September 2011

Boso mBatang Kosakata dan Contoh Kalimat

Umbrus: kacau, nggak pakai aturan
"Acarane ora nggenah, panitiane umbrus."

Mlisthak: pudar warnanya
"Tasku jaman SMA kae wis mlisthak, ora pantes dinggo."

Mlosdrong: melorot (khusus pakaian bawah)
"Kathokku mlosdrong terus, kolore pedhot"

Semromong: gerah
"Kipas angine mati, hawane semromong"

Nggendhu: tidak peduli aturan, kurang tanggung jawab
"Kae bocahe nggendhu, ojo dikon dadi ketua"

Nggentho: berpolah seperti preman (gentho)
"Koncoku kae rodo nggentho, guru-guru dho ora seneng"

Ngiras: jajan dengan memesan makanan kesukaan dengan nuansa memanjakan diri
"Bar dike'i dhuwit, langsung ngiras nang warunge Lik Bakri."

Bruk: jembatan, dari bahasa Belanda Brug
"Omahe pedhek bruk kali Sambong."

Pedhek: dekat
"Dolane ojo adoh-adoh, luru nggon sing pedhek bae".

Ngedros: bersikeras, meminta agak memaksa
"Nek njaluk ditukakke dolanan senenge ngedros"

Njenggureng: ekspresi wajah tidak menyenangkan
"Wit isuk njenggureng terus, wegah mesem"

Kemecer: ingin kencing hampir tak tertahankan. (bisa juga dipakai untuk konteks lain)
"Rasane wis kemecer, tapi bis-e ora mandheng-mandheg"

Dhaplok: sudah dewasa, besar (konotasi agak mengejek)
"Wis dhaplok po'o njaluke mangane didulang terus"

Wadhe: iri hati
"Kae we wadhe karo tonggone sing nembe tuku montor anyar"

Poyan: janjian, memberitahukan kedatangan, membuat 'appointment'
"Aku wis poyan dhisik, dadi wonge sing pak tak temoni ora lunga"

Bonggan: salahnya sendiri
"Bonggan kowe gelem, saiki nangis-nangis"

Sak drembo: ukuran besar
"Lha wong piringe we sak drembo, dadine segane akeh, malah kewaregen"

Sethapruk: jumlah banyak
"Dhuwite sethapruk, tuku opo-opo gampang"

Tholo-tholo: kepala terkesan gundul dengan bentuk aneh
"Cukure kecendheken, dadine tholo-tholo."

Bijig: menghentak-hentakkan kaki, melangkah cepat dengan menghentak
"Anakku bareng iso mlaku senenge bijig, playon mrena-mrene."

Ciwek: cengeng, mudah nangis
"Kae we cahe ciwek, sithik-sithik nangis."

Gembeng: pemalas
"Ojo gembeng ah, bar tangi turu kok klekaran."

Njagok: duduk
"Mrene mas mampir, njagok ndhisik."

Striwel: kaos kaki
"Sepatunan kok ora kanggo striwel?"

Druwang: kertas (dari bahas jw standar 'dluwang')
"Kowe weruh druwang nang ndhuwur mejo wingi pora?'

Kakehan klithik: kebanyakan gaya (aslinya istilah main bola)
"Langsung bae ra, ora usah kakehan klithik."

Klenthung: kaleng
"Dhuwit recehe diwadhahi klenthung."

Gendul: botol (dikenal juga di daerah lain, tapi sudah mulai berkurang)
"Banyune diisekke nang gendul."

Seteger: tiang listrik
"Nang ngarep omahe ono seteger."

Kecehan: bermain di genangan air
"Nek pas bar udan cah-cah senenge dho kecehan."

Bergas: ganteng atau gagah
"Lurahe bergas, wong-wong podho seneng."

Mumpluk-mumpluk: cantik, segar berseri
"Anake sing cilik ayu mumpluk-mumpluk."

Dhugal: sebal > ndhugal: menyebalkan
"Aku dhugal karo bakul kae, senenge ngakali."

Merceko: bicara banyak
"Wonge senenge merceko, bosen ngrungokkene."

Gili: jalan, (diucapkan "nggili")
"Aku wingi pit-pitan nang gili gedhe."

Nderep: mengerjakan sawah (buruh tani?)
"Bapakane kerjane nderep nang sawah."

Kluwus: kusut kotor
"Raine kluwus, wis telung dino ora adus."

Cikrak: alat pengumpul sampah saat menyapu
"Ben mbuake gampang, regetane diwadhahi cikrak ndhisik."

Cepon: tempat membawa dagangan (bakul) yang dibawa di atas punggung,terutama oleh ibu-ibu penjual.
"Lik Inah saben dino nggendhong cepon bola-bali nang pasar."

Lenjeh: genit
"Ojo dolan karo cah kuwe, bocahe rodo lenjeh."

Nglencer: bepergian untuk tujuan hiburan.
"Kae we nek dino minggu senenge nglencer."

Bedego: personifikasi telanjang (laki-laki)
"Ora kathokan koyo bedego."

Mitro (nggedebus): pembohong, pembual
"Ojo ngandel, kae we senenge mitro."

Kobol-kobol: terbebani
"Nek kon mbayari terus aku kobol-kobol ra ho."

Ndemphis: berdiam di pojok atau di tempat agak tersembunyi
"Bar diseneni kakangane, adhine ndhempis nang kamar"

Nglowoh: bengong terutama bila dengan mulut terbuka (Jawa Solo Jogja:'ngowoh')
"Lha aku dikon ngenteni suwine pok, nglowoh ora ngopo-opo, bosen ra."

Ngrengik: meminta dengan merajuk sedikit memaksa
"Ojo ngrengik ah, ora usah njaluk tuku es, mengko ndhak watuk."

Beberapa kosakata dibawah ini memiliki nuansa yang kurang menyenangkan (mohon maaf.):

Wangur: beraroma tidak sedap (beras)
"Berase wis lawas, mambune wangur"

Badheg: bau tidak enak
"Karpete ora tau dikumbah, mambune badheg."

Baseng: bau tidak enak, bernuansa busuk
"Pecerene mampune baseng, koyone ono bathang tikus."

Kemproh: jorok
"Wonge kemproh, kamare ora tau diresiki"

Nglemprot: tampilan tidak rapi
"Wegah aku ngejak tonggoku kae, wonge nglemprot."

Gudhal: kotoran gigi
"Wis telung ndino ora sikatan, gudhale akeh."

Semelet: terasa panas
"Motore nembe bae dinggo, knalpote semelet"

Celong: berwajah pucat, kurang segar
"Raine anake rodo celong, soale wis seminggu mriang."

Mesum: wajah tidak ramah
"Wong kae ora iso srawung, nek dijak kandhanan raine mesum terus."

Kroncalan: kaki yang bergerak-gerak
"Bayine lucu, senenge ngguyu karo kroncalan."

Lulut: akrab atau jinak
"Anake sing paling cilik wis lulut karo pembantune, ora nangisan."

Ngorong: haus
"Hawane panase pok, dadi ngorong terus."

Kathik ('thik): dengan memakai
"Mbok sekrupe dibukak kathik obeng."

Onggrongan: suka dipuji atau disenangkan
"Kepala kantore kae rodo onggrongan."

Nggraut: mencakar
"Kukune dowo-dowo, senenge nggraut."

Ngiklik: sering, berlebihan (batuk, tawa)
"Watuke ngiklik, tapi wegah ngombe obat."

Ijir: suka hitungan (budi, jasa)
"Mertuane ijir, opo-opo diungkit-ungkit, dadine mantune ora betah."

Gugu: geli
"Aku wè gugu nek krungu critané"

Biyah: berkelahi alias 'gelut'
"Anaké sing cilik tukangé biyah nang sekolahan."

Dhadhah: pagar
"Keboné didhadhahi nganggo pring."

Dhoglong: jangkung
"Kaé umuré isik bocah tapi prawakané dhoglong."

N'dhun: maksudnya "nuwun", menjawab panggilan orang tua atau yang dituakan.
"Maaat, amaaat!" Jawab: "N'dhun, Pak"

Diplencingi: diberi komisi alias persenan
"Aku diplencingi ra, motormu wis payu kan?"

Kedarung: kebacut, kadung
"Wis kedarung mangkat jebul gurune ora teko"

Ngriwuki: mengganggu alias 'ngerecokin'
"Kowé wé ora mbantu malah ngriwuki"

Lop: panggilan untuk anak laki-laki "kolop"
"Pak ring ndi, lop? Nyong kok ora dijèk"

Dijèk: dijak, diajak > ngejèk: ngejak
"Dikandhani apik-apik malah ngejèk gelut."

Njekuthut: ekspresi tubuh mengkerut
"Bocahe njekuthut, katisen bar udan-udanan."

Nyengit, sengit: menyebalkan (bikin benci), benci
"Wongé nyengit, dadiné kancané sithik."

Bakul ènthèk: tukang sayur perempuan
"Wis rong ndino bakul ènthèké ora dodol"

Singo-singoho: terserah apa saja (jw standar: sak-saké)
"Ora usah kakehen milih, singo-singoho pokoké sing penting iso dinggo"

Keno oyot mimang: tersesat, selalu kembali ke tempat yang sama
"Ora tekan-tekan ye, keno oyot mimang".

Nggejah: berserakan dalam jumlah banyak
"Nek duren we yo nggonku nggejah"

Lémpoh: capek letih, (ekspresi hiperbolik, dalam bahasa Jawa standar artinya 'lumpuh')
"Mlakune adohé pok ho, sikilku nganti lémpoh"

Ladak: galak
"Ibuné ladak, dadiné aku aras-arasen nek pak dolan nang omahé"




BOSO MBATANG FAKTA-FAKTA MENARIK

Sent from my BlackBerry® smartphone

Jumat, 02 September 2011

Sego Megono




Sego megono dengan lauk tempe atau lauk sederhana lainnya, makanan yang selalu bikin kangen, terutama bagi orang Batang di rantau.

Selasa, 09 Agustus 2011

Tonggo Kulon: Pekalongan

Tak bisa disangkal lagi, kita sebagai warga Batang memiliki hubungan sosial ekonomi yang erat dengan kota Pekalongan. Disamping karena letak geografis yang sangat dekat (lebih kurang 9 km) kota ini juga dahulu merupakan pusat dari sebuah karesidenan yang hingga kini masih terasa keberadaannya dengan dipakainya plat G pada nomor kendaraan kita.

Saya sendiri memiliki keterikatan emosional khusus dengan Pekalongan karena ibu saya asli orang Wiradesa dan saya sekolah di SMA 1 Pekalongan.

Harus diakui pula bahwa kota ini juga secara nasional lebih dikenal dibanding kabupaten-kabupaten lain disekitarnya dengan atribut spesial sebagai “Kota Batik” dan “Kota Santri”. Kota ini juga menjadi semacam ‘core culture’ dari daerah sekitarnya dari segi budaya, termasuk dialek dalam berbahasa, sehingga orang Batang pun bila berada di luar daerah kadang mengaku sebagai 'orang Pekalongan', walaupun dengan maksud sekedar untuk memudahkan pemahaman yang diajak bicara, sebelum akhirnya memperinci letak persisnya di Batang.

Berikut adalah beberapa tautan tentang Pekalongan

Transportasi: "Kol mBatang-Kalongan"

Akun-akun Twitter tentang Pekalongan:
@infopekalongan @orangpekalongan @infopkl 

Kata Kunci

alas roban (5) alun-alun (6) bahasa (3) bahurekso (1) bandar (2) batang (161) batang.org (6) batik (5) bawang (1) bioskop (1) blado (2) blog (2) buka puasa (1) bupati (2) central java (1) darul ulum (1) dayung (1) dialek (3) dracik (1) facebook (4) festival (1) forum (2) foto (8) hotel (1) info (1) jalan (1) java (1) jawa (3) kabupaten (101) kadilangu (1) kalisalak (1) kampung (1) kampus (1) kantor (2) kauman (1) kecamatan (5) kedungdowo (1) kegiatan (1) kehidupan (1) kenangan (2) kereta api (3) khas (2) kliwonan (7) komunitas (2) kota (18) kramat (2) ktp (1) kuliner (9) lingkungan (2) lokasi (1) lomba (2) lumba-lumba (3) madrasah (1) maghribi (1) makam (2) makanan (3) map (2) masjid (1) mbangun (2) mbatang (1) megono (3) melati (1) metal (2) mustika (1) nelayan (3) pagilaran (3) pahlawan (1) pantai (10) pantura (4) pasar (2) pawai (2) pekalongan (7) pemandian (1) perkebunan (1) pesanggrahan (1) peta (2) petilasan (1) radio (2) ramadhan (2) rel (1) resmi (1) rspd (2) rumah (1) sambong (2) search (1) sego (2) sejarah (5) sekolah arab (1) semarang (2) sendang sari (1) senggol (1) sigandu (5) situs (4) srikandi (1) sungai (2) taman (1) teh (1) terminal pekalongan (1) tersono (1) thr (1) tol (2) tulis (2) twitter (3) ujungnegoro (6) website (4) wikipedia (1) wilayah (2) wisata (10) wonobodro (1) wonotunggal (2)